Lifestyle / Female
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:36 WIB
Ilustrasi kulit wajah sehat (Freepik)
Baca 10 detik
  • Dr. Catherine Soebroto menjelaskan penuaan kulit terjadi karena berkurangnya kolagen akibat faktor usia dan paparan sinar ultraviolet.
  • Collagen stimulator jenis PLLA-SCA digunakan untuk memicu produksi kolagen alami agar struktur kulit menjadi lebih tebal kembali.
  • Perawatan ini memberikan hasil pengencangan wajah secara bertahap dan alami yang mampu bertahan hingga lebih dari dua tahun.

Suara.com - Dunia estetika terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merawat kesehatan dan penampilan kulit. Jika dahulu perawatan anti-aging identik dengan prosedur yang memberikan efek instan atau penggunaan berbagai teknologi berbasis alat untuk mengencangkan wajah, kini tren mulai bergeser. 

Semakin banyak orang mencari solusi yang tidak hanya memperbaiki tampilan kulit dari luar, tetapi juga mampu mengatasi penyebab utama penuaan dari dalam sehingga hasil yang diperoleh terlihat lebih alami dan bertahan lebih lama.

Pergeseran tren tersebut tidak terlepas dari pemahaman bahwa proses penuaan kulit sebenarnya berawal dari berkurangnya kolagen dan elastin yang berfungsi sebagai penopang struktur kulit. 

Seiring bertambahnya usia, produksi kedua komponen penting ini terus menurun sehingga kulit menjadi lebih tipis, kurang kenyal, dan mulai kehilangan kekencangannya.

Aesthetic doctor dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta, menjelaskan bahwa penuaan merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Namun berbagai faktor lingkungan dapat mempercepat terjadinya aging pada kulit.

“Paparan UV tinggi adalah faktor penyebab aging nomor satu,” ungkap dr. Catherine dalam konferensi pers yang diselenggarakan dr. Belle Aesthetic Clinic dan Galderma di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta (Suara.com/Dinda)

Menurutnya, kulit yang mengalami penuaan umumnya tampak kendur (sagging), berkerut, dan kehilangan elastisitas. Kondisi ini terjadi karena berkurangnya kolagen dan elastin yang selama ini menjaga kekuatan serta ketebalan kulit.

“Ini karena kulit mulai kehilangan kolagen dan elastin, yang merupakan penopang struktur kulit. Dengan berkurangnya kolagen, kulit menjadi tipis sehingga kendor dan tampak turun,” paparnya.

Secara teori, jumlah kolagen dalam kulit berkurang sekitar 10 persen setiap 10 tahun. Akibatnya, wajah mulai kehilangan volume alami, kontur wajah berubah, dan tanda-tanda penuaan semakin terlihat jelas. Bahkan menurut dr. Catherine, kondisi tersebut dapat dikenali melalui tes sederhana dengan mencubit pipi.

Baca Juga: 3 Produk PHERINI yang Dapat Membantu Kulit Tubuh Tampak Lebih Cerah dan Merata

“Kalau kulit bisa ditarik sampai panjang, tandanya kulit sudah sangat tipis,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kulit yang sehat dan muda memiliki lapisan yang tebal, kencang, kenyal, serta tekstur yang halus. Menariknya, tanda penuaan pada orang Asia berbeda dengan orang Kaukasia. 

Karena memiliki lapisan kulit yang lebih tebal, orang Asia cenderung mengalami pengenduran jaringan wajah dibanding munculnya kerutan yang dalam.

“Jadi tidak terlalu keriput, tapi lebih ke arah kendur sehingga tampak heavy jaw saat terjadi penuaan. Berbeda dengan orang Kaukasian yang cenderung berkerut dan keriput, karena kulitnya lebih tipis,” jelasnya.

Pemahaman mengenai hilangnya kolagen sebagai akar masalah penuaan inilah yang kemudian membuat collagen stimulator semakin diminati sebagai pilihan perawatan anti-aging modern. 

Berbeda dengan berbagai teknologi berbasis alat yang umumnya bekerja dengan memberikan energi tertentu untuk merangsang pengencangan jaringan, collagen stimulator bekerja langsung pada sumber permasalahan dengan memicu pembentukan kolagen baru.

Load More